Lost
Terkadang ada waktunya kita menghilang… Disaat semua keadaan tak memungkinkan untuk menerima keberadaan kita..
———
Entah apa yang ada dipikiran saya. Kacau? Emosi? Sedih? Menyesal? Hemm.. Tidak sama sekali. Saya hanya merasa tenang.. Ketenangan yang tidak nyata. Ketenangan yang saya tahu tidak akan berlangsung lama. Ketenangan yang membuat saya kuat, walaupun hanya sementara.
Saudara, Keluarga, teman, sahabat. Ahh, apa masih bisa saya panggil begitu??
Terkadang inilah yang saya takutkan dari menjalin sebuah hubungan. Kita lebih sering merasa takut untuk di sakiti, tanpa mau tahu apakah yang kita lakukan tidak akan menyakiti orang lain. Bukan berarti saya tidak perduli dengan orang lain, saya sudah berusaha, sungguh. Namun mungkin belum cukup keras, atau belum maksimal. Sehingga terkadang saya melakukan kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang membuat orang lain tidak menyenangi saya, menjauhi saya, kesalahan yang terjadi karena kekurangan saya. Mau bagaimana lagi? saya dilahirkan dengan kekurangan ini..
Saya tak mampu lagi untuk meminta maaf, karena mungkin saya tak yakin. Di kedepan hari saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Terkadang saya sendiri lupa dengan untuk selalu menjaga sikap, dan berpikir sebelum bertindak dan berkata, dan lebih baik untuk saat ini semua dibiarkan seperti ini. Jadi kedepannya, saya tidak perlu takut lagi akan bisa menyakiti kalian lagi tanpa sengaja. Dan ini permintaan maaf terakhir saya, dari lubuk hati yang terdalam.
Maafkan aku,kawan.
——–
Ya saya tahu, bahkan lebih tahu dari siapapun kalau hubungan ini sangat mustahil untuk tercipta. Tapi entah kenapa saya tetap mencoba. Saya tetap maju tanpa memikirkan dampak kedepannya. Mungkin, jika saya tidak pernah memulai, saya tidak akan sampai di titik ini. Titik dimana kamu ingin semuanya biasa-biasa saja. Titik dimana saya harus mereset kembali semua data-data program di kepala saya, dan sekarang, jujur saja, saya bingung bagaimana untuk menghidupkannya lagi.
Yaa, mungkin lebih baik untuk membiarkannya tetap mati. Dan sekarang? seterusnya?
Entahlah.
Aku hanya berharap kamu akan baik-baik saja disana. Dan selalu mendoakan agar DIA selalu menjagamu. memberikan yang terbaik untukmu, dan tidak membuatmu menangis lagi. Karena aku tidak kuat melihat air mata itu jatuh di pipimu. Membasahi wajahmu. Terlebih lagi karena tanganku tak sampai untuk menghapus air mata itu.
——–
Yah, disinilah waktunya. Waktu yang tepat untuk pergi sejenak. Melupakan semuanya. Mengakhiri semuanya. Dan bersiap untuk sebuah awal yang baru. Awal yang baru, dimana kita semua bisa hidup bahagia. Dimana kita semua bisa tertawa lepas, tersenyum renyah diantara hari-hari kita, walaupun tidak ada jaminan kalau kita akan saling mengenal lagi satu sama lain ataupun akan sedekat yang dulu.
——–
Aku akan selalu mencintaimu. Bukan karena kecantikanmu, kebaikanmu, kepintaranmu, ataupun segala kelebihan dan kekurangan yang ada dalam dirimu. Tapi karena bersamamu, aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa perlu menjadi orang lain.





