Dec 29 2009

nasi campur

Loving you it hurt sometimes. I am standing here you just don’t bye. I am always there you just don’t feel, or you just don’t wanna feel. Don’t wanna be hurt that way. It doesn’t mean I am givin’ up. I wanna give you more, and more and more…

——

ahh.. Terkadang saya meringis melihat diri saya sendiri di depan cermin. Bukan!! bukan karena wajah saya yang cakep n tampan kata orang-orang, tapi karena saya seteres melihat betapa kucel dan kusut nya wajah ini.

Pejuangan hidup mulai terasa berat. Sangat berat. Dalam usia yang masih muda belia ini, saya dituntut untuk mengemban tanggung jawab yang sangat besar, sebagai mahasiswa, sebagai seorang anak, dan sebagai pekerja, ahh tak lupa sebagai seorang pria!! (anda tahu maksud saya kan??hihi)

Beban mental dan perasaan mulai menggerogoti liang hati saya yang paling dalam yang berpengaruh pada kinerja otak saya dan pergerakan otot saya. Jadi jangan heran kalo sewaktu-waktu tiba-tiba saya sering terdiam dan memiliki pandangan kosong.

——

Sebagai mahasiswa

cuma dua kata yang sedang saya pikirkan saat ini, dua kata yang paling menyita seluruh kuota pikiran saya : TUGAS dan UJIAN!!!

Sebagai anak

Arggghhh…yaya, saya juga harus membantu orang tua dirumah (walaupun kenyataan nya jarang dirumah). Pikiran untuk berusaha bisa membantu itu saja sudah membuat saya merasa tidak enak hati karena tidak bisa terealisasi.

Sebagai pekerja

Hahhh.. Kesan pertama selalu begitu menggoda, begitu antusias dan menyenangkan. Selang 2 bulan kemudian : Capeknya minta ampun dan tak bisa ditunda-tunda, belum lagi kalo saya sedang banyak tugas dan dekat ujian, letakkan penggorengan berisi telur ayam mentah diatas kepala saya, niscaya 10 menit kemudian anda bisa menikmati telur mata sapi.

Sebagai pria

Ini dia. Satu masalah yang paling mengganggu. Setiap hari saya selalu diganggu dengan pikiran saya yang bertanya : “Bisa gak sih kita gak jatuh cinta??” dan dijawab dengan hati saya dengan nyanyian patah hati dan gugur pahlawanku yang datang ribuan kali.

Saya lelah. Jujur saja. Untuk mencari seseorang yang tepat di hati, mencari orang yang bisa diajak berbagi, mencari seseorang yang selalu dinanti ketika kita sedang larut dalam kesibukan kita. Dan tentu saja, mencari seseorang yang mencintai saya apa adanya dengan segala kekurangan yang saya miliki.

Apa saya terlalu naif? ketika ada wanita yang mendekat saya menjauh, ketika saya mendekati wanita eh malah wanitanya yang menjauh. Cinta memang tak bisa dipaksakan kata orang.

(buat om-om dan tante-tante yang baca..maaf ini curhatannya remaja yang baru puber pertama..khikhikhi..)

Sejujurnya saya sudah tak ingin mencari lagi, dan membiarkan pikiran saya dengan kuasanya mengatakan : “Biarkan saja..jodoh ada di tangan TUHAN, tak akan lari kemana, jika sudah waktunya pasti akan datang” . Tapi entah kenapa hati saya dengan nyanyian syahdunya meniupkan angin2 nada yang menerbangkan kata-kata itu entah kemana, membuat saya terus mencari dan mencari.

Dan saat ini, cuma ada satu orang yang selalu mengganggu pikiran saya. yaa kamu!! Sapa lagi?!! cuma kamu.. Untuk dirimu, saya persembahkan kata2 pembuka di bagian atas tulisan saya ini, karena memang begitulah adanya.

Hanya saja, saya tak tahu harus maju terus ato menyerah sampai disini. Yang saya tahu pasti, kedua pilihan akan merubah saya. Ya, mungkin aku gak akan jadi aku yang kamu kenal lagi. Entahlah, kita lihat saja nanti.

———–

Oiya,maaf untuk teman2 semua yang sudah berkenan mampir ke blog saya ini, maaf kalau saya belum sempat mampir balik ke sana. Tugas dan ujian yang sangat2 sudekat mengalihkan dunia saya.

akhir kata saya ucapkan : “terima kasih bapa, ibu, kakak, dan teman semua….”

*Loh????* mabuk mode: on


Dec 28 2009

stupid!!

Bodoh.

Ya saya tahu saya itu bodoh. Sejak kecil saya gak pernah jadi yang nomor satu. sejak kecil saya ini selalu nomor dua, dinomor duakan bahkan tidak dianggap. Ya saya tidak sepintar, setenar, ato sekeren kakak saya. Bahkan teman-teman saya tahu itu, guru-guru saya waktu sd tau itu. Mereka selalu membanding-bandingkan saya. Saya diam saja.

——-

Bodoh.

Ya, saya memang bodoh. Sudah tahu materi ujian semester ini banyak dan sulit. Tapi tetep saja saya suka main-main, pemalas, dan jarang belajar. Sibuk mengurusi ini dan itu. Berharap sistem SKS bisa membantu, tapi saya tahu itu akan sulit. Pengalaman mengajarkan saya hal itu. Saya masih tak berubah.

——-

Bodoh.

ya, saya masih bodoh! akhir-akhir ini kondisi badan saya menurun drastis. dan saya tetap saja tidak menjaga kondisi, tidur pagi dan bangun pagi. Membiarkan diri terlalu larut dalam masalah yang bukan masalah. Membiarkan diri saya terbakar oleh hal-hal yang bahkan anak kecil pun tahu kalo itu bisa membuat sakit. Saya masih bermain dengan api.

——

Bodoh.

dan saya tetap bodoh, karena saya menyukai dia. Karena saya tahu, semua ini akan berujung pada rasa sakit, tapi tetap saja saya keras kepala. Tetap mencintai dia,  meskipun saya tahu dia tidak mau membuka pintu hatinya kepada saya. Dan tetap saja saya berusaha, berlari mengejarnya. Padahal saya tahu dia ada di dunia yang berbeda. Dan saya masih tetap buta dalam sinaran mentari pagi.

——

namun saya cukup pintar untuk tahu bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi orang bodoh.

karena dengan begitu, kita tidak akan pernah belajar untuk menghormati dan menghargai orang lain.

Karena dengan begitu kita tidak akan pernah berhenti berusaha untuk menjadi lebih baik.

Karena dengan begitu, saya tidak akan punya keberanian untuk tetap berlari. Meskipun saya tahu kalo mungkin suatu saat saya harus merelakannya lagi. membiarkannya jauh lebih bahagia dengan pilihan hidupnya sendiri.

Yaa saya memang bodoh..

dan bangga menjadi orang bodoh..


Dec 10 2009

Salah orang

(Di siang yang panas, didalam toko alat-alat komputer)

Sales (S) : “Haloo, gimana??” *serasa akrab, mungkin karena saya sudah langganan disini*

aDHI (A) : “Hehehe, ini, saya mau beli hardisk baru”

S : “Loh, hardisk lagi?? kemarin udah nyari. (pas seinget saya kakak kemarin beli hardisk juga disini)

A : “iyaa,…..” *omongan terputus karena si bapak sales tiba-tiba berbicara dengan pegawainya.

S : “Nyari yang gimana sekarang ?”

A: “Hemm, yang sama kyak kemarin dibeli, yang 500 Gb”

*Pembicaraan berikutnya tentang tawar menawar harga, dll yang membosankan*

————

S : “Tunggu bentar ya pak adhi, barangnya masih diambilin. Bentar lagi dateng kok” *eh, kok bisa tau nama saya? (ahh mungkin karena saya langganan disini)

A : “Oiya pak. Gak masalah”

Terik matahari diluar tidak terasa panasnya, berhubung di dalam sini ruangan ber –ac. (hihi, gak penting).

Tiba-tiba si bapak curcol tentang orang yang dikenalnya dan membuatnya jengkel. Serasa kita udah kenal deket aja. “Hemm,mungkin ni bapak emang baik kali ya dan ramah??” pikir saya.

S : “Kemarin saya ada nangani proyek di perusahaan X, tentang jaringan. Gimana ya… Saya heran aja,.. Kok orang yang nangani disana, gimana gitu.. jadi susah kita yang dari sini kerjanya..

bla … bla … bla …

dan yang saya lakukan : Berusaha mengerti topik pembicaraan, menanggapi seperlunya, dan tak lupa bumbu tawa dan senyum manis. Eh tampang serius juga dipasang ding. hihi..

Alhasil si bapak jadi cerita malah tambah panjang dan tambah lebar. Seakan-akan kita udah temen akrab aja. hihi.

————-

Ketika barang yang saya pesan datang, si Bapak hendak pergi (karena ada urusan sepertinya) tapi masih tertahan karena cerita sama saya.

Setelah cerita selesai, dan saya segera melunasi pembayaran di kasir, si bapak sales hendak keluar pergi.

S : “Saya mau keluar dulu nih, keponakan saya kemarin melahirkan jadi ijin dulu karang, hehe”

A : “Owww iya iya..hahaha..Selamet ya pak..”

S : “Yoi”

S : *Sambil berjalan keluar dari pintu* “Oww iya, calon istri gimana?? Sehat??”

A : “Eh?”

*serasa ditampar* …….. dan hanya bisa diam seribu bahasa. Calon istri??? Calon istri dari hongkong!! Pacar aja saya gak punya!

*Serasa di timpa pohon* saya baru sadar kalo si Bapak pasti salah mengira kalo saya itu kakak saya yang seinget saya sering ke toko ini juga bersama tunangannya.

Jadi sedari tadi???

————–

Di luar sana bapak itu berbalik menunggu jawaban dari pertanyaannya. Saya bingung. Mesti jawab apa?? nasi sudah jadi bubur dan terlanjur saya makan.

Terpaksa saya bilang, “Owiyaa, sehat!!!!” dengan lagak belagu pura-pura gak tau.

Si bapak pun tersenyum dan berbalik pergi.

Hufff…