Saya sedang gelisah.
Nenek bilang, kita harus berani untuk mencoba untuk mendapatkan sebuah pengalaman. Tapi tetap saja saya gelisah. Sebentar lagi saya akan dihadapkan pada dunia yang baru. Dunia yang saya pikir baru akan saya temui nanti ketika saya tamat kuliah nanti. Tapi, hey, Tuhan memiliki rencana lain rupanya?
————
“Dhi, sini deh bentar, ada yg mau aku bilang” salah seorang teman menghampiri saya.
“Apa?”
“Ada tawaran dari si Anu, katanya tempat dia kerja sedang ngebutuhin asisten baru buat gantiin si Anu. Dia karang udah gak sempat lagi, bakal sibuk ngurus kuliahnya”
“Eh?”
“jadi gimana?”
“emm….”
“Ya, cuma mau nyampein itu aja sih…”
“oke..”
Dan tak lama setelah nya saya telah ngobrol panjang lebar dengan si Anu membahas masalah itu. Akhir pembicaraan, saya meminta waktu untuk berpikir.
————–
*Satu setengah tahun yang lalu…*
Di pinggir koperasi kampus kala itu, masih teringat jelas saya dan Anu membicarakan hal yang sama. Bedanya, Anu baru saja memulai asistensinya, dan saya sedang bernafsunya untuk mencari pekerjaan seorang asisten.
“Serius kamu kerja di tempat itu??wahh..mau!! Ikut…” kata saya.
“Hehe, sayang banget, Dhi. Bos nya cuma nyari satu asisten”
“Huhu, pasti asik banget thu. Aku pengen nyari pengalaman nih, eh digaji gak?”
“Yaiya dung. ya gak banyak-banyak amat sih, cukup buat ganti uang bensin aja”
Semakin kepengen…
————-
Dan sekarang, ketika kesempatan itu telah ada di depan mata, saya malah meragu untuk mengambilnya. Heran, kemana perginya nafsu besar untuk mencari pengalaman itu?
Sepertinya waktu telah mengubah semuanya, dan kuliah saya pun bisa dibilang sudah membutuhkan perhatian yang bener-bener ekstra. Jadi tak bisa begitu saja di sepelekan. Lama saya memikirkan hal ini, karena dilema perasaan antara menerima ajakan yang telah satu setengah tahun saya tunggu-tunggu dengan beban kuliah dan tugas-tugas beserta tetek bengek lainnya.
Apa yang harus saya lakukan?? Mana yang harus dipilih??
————-
Suatu malam, saya curhat dengan salah seorang teman saya mengenai masalah ini. Dia hanya tertawa.
“Kenapa kamu takut untuk mencoba sesuatu?” tanyanya setelah puas menertawakan saya.
“BUkannya takut, tapi lebih karena aku telah terbiasa dengan kehidupan selama satu setengah tahun setelahnya”.
“Jadi kamu takut meninggalkan pola hidup itu?”
“Kurang lebih”
“Tenang aja, Dhi. Kalo kamu pasti bisa”.
“Bisa apanya?”
“Bisa berubah. Ini kan kesempatan yang kamu tunggu sudah satu setengah tahun lamanya, mungkin memang sekarang lah saat yang tepat buat kamu untuk memulai asistensi itu”.
“Ya, tapi kan semuanya udah berbeda!! Lain dulu lain sekarang. Keadaannya udah berbeda”
“Tapi setidaknya kamu harus berani untuk mencoba kan? Daripada kamu nanti menyesalinya karena gak mengambil kesempatan ini? Ya, kalopun nantinya gak jadi, anggep aja memang belum waktunya. Tapi selama pintu kesempatan masih terbuka lebar, kenapa gak??
“………..”
“Gimana??”
“Entah, masih bingung”.
“Asistensi ini juga masih berhubungan erat dengan kuliah mu sekarang kan? Jadi gak ada salahnya untuk di coba lagi, Dhi. Jangan takut akan perubahan. Jangan takut kehilangan pola hidupmu yang sekarang, karena kita itu harus selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Itulah hidup kan? Untuk mencari pengalaman baru?? Tanpa itu, kamu gak akan pernah maju”
“………..”
“Memang, terkadang untuk mendapatkan sesuatu, ada hal yang harus dikorbankan, Dhi”
“……”
hening
“Kenapa baru sekarang ya? setelah aku tidak terlalu mengharapkan hal itu lagi. Ketika aku tidak merasa perlu buat nyari pekerjaan itu lagi”
“Karena Dia selalu tahu apa yang terbaik untuk mu, Dhi. Dia tahu kapan saat yang tepat untuk memberikannya padamu, dan kamu tidak tahu itu kan? Kamu tidak pernah tahu, apakah hal yang kamu minta itu memang terbaik untuk dirimu”
“Eh?”
“Manusia boleh saja merencanakan apa yang terbaik untuk hidupnya, tapi tetap Dia yang menentukan segalanya. Segala yang terbaik untuk ciptaannya”
“Jadi aku harus gimana?”
“Semua pilihan ada ditanganmu, pikirkanlah dan pilihlah dengan bijak”
———–
*Seminggu berselang*
Saya mengirim sms kepada si Anu, isinya :
“Oke, aku terima tawaranmu”
Saya telah berpikir selama ini dan telah mengambil keputusan untuk menerima kesempatan ini. Entah nanti kedepannya akan bagaimana, serahkan semuanya padaNYA, karena seperti kata teman saya, DIA tahu apa yang terbaik untuk saya dan juga untuk kita semua, meskipun itu hal yang berat sekalipun.