Oct 9 2009

part of my day

“Hey, Dia!!!” Dia menoleh dan menunjukan senyum nya yang khas. Manis dan menggoda.

“Apa, Dhi?”

“Gak kenapa kok, hehe, cuma manggil aja” kata saya sambil berjalan beriringan dengan Dia menuju ke ruang kelas pagi ini.

——

Tanpa terasa hampir 1,5 tahun telah berlalu sejak awal saya menjejakan kaki di kampus ini. Ya, setidaknya sudah 1,5 tahun saya mengenal teman-teman seangkatan saya. Teman-teman yang semuanya setiap hari berkumpul dalam satu kelas, kecuali hari minggu dan hari libur. Melelahkan!!

Diantara mereka semua, Dia adalah salah satu orang yang selalu menarik perhatian saya. melepas kenyataan kalau dia sering menarik-narik saya untuk pergi nganterin dia sekedar ke kantin ato ke ruang dosen. Kalo ke toilet?? Wah, gak perlu ditarik deh!! hihi.

Selain Dia, ada Mia salah seorang sahabat saya, yang gokil, dengan kepintaran diatas rata-rata-tanah. Pernah sesekali dosen bertanya, “Kalian tahu kenapa gigi yang berlubang harus ditambal??” Mia dengan penuh percaya diri mengacungkan tangan “Karena kalo gak ditambal bisa nyebabin kecelakaan bu!?” Selanjutnya Mia sukses dibenamkan di bak mandi untuk membangunkannya dari kantuk.

Nah, yang satu ini temen saya yang paling heboh. Gea namanya. Merupakan pusat dari keramaian yang ada. Dimana ada Gea pasti disana ada kehebohan yang terjadi. Dan Gea selalu sukses membuat saya tertawa, meskipun saya terkadang gak tau apa yang ditertawakan.

Lalu ada Uta, pria berbadan subur yang sedang berusaha menguruskan badannya dengan melakukan diet ketat. Pake celana ketat, baju ketat, sepatu ketat, Semua hal yang berbau ketat pasti akan dilakukan olehnya. Orangnya lucu, dia selalu bisa membuat orang tertawa dengan menertawai orang lain. (Tanpa menyadari kalo orang lain terkadang menertawakan dirinya bukan leluconnya)

Selanjutnya ada Lis, berhubung badannya yang mungil dia sering salah diinterpretasikan antara anak kuliahan dengan anak TK. Seorang wanita yang baik dan pekerja keras, terutama dalam memaksakan kehendaknya kepada teman-temannya. Jangan tertipu oleh ukuran badannya, karena mungil-mungil begitu, Liz disegani sebagai pimpinan preman pasar.

Dan terakhir, sebut saja bunga *bukan nama sebenarnya* Lha??

Itulah beberapa teman yang selalu menyertai hari-hari saya dalam menempuh pendidikan di kampus ter***** ini. Tanpa mereka, hidup saya bagaikan makan piring tanpa nasi (Gimana caranya makan ya?)

————–

Saya dan Dia duduk di deretan kursi paling tengah saat itu. Gea, Uta dan lain-lain sudah lebih dahulu mengisi tempat-tempat disebelahnya.

“Wah, adhi hari ini datengnya barengan Dia lagi ya??” Gea memulai pembicaraan.

“Ahh, gak kok, tadi kita ketemu dijalan aja, ya kan Dia?”

“Eh, sapa ya??Rasanya tadi aku jalan ndiri deh” Dia menjawab dengan tampang sinisnya.

“Tegaa…”

—————-

Hari ini termasuk dalam satu dari sekian banyak hari dalam seminggu yang berjalan membosankan. Duduk di dalam ruang kuliah – menunggu dosen yang tak kunjung datang – ke kantin – duduk dalam ruang kuliah – nunggu dosen – ketiduran di meja – pulang dengan perut lapar minta diisi.

Berhubung hari ini pulang lebih awal karena dosen yang tak kunjung datang karena ada banyak halangan dan rintangan, jadi kami(saya, Lis, Uta, Gea, dan Mia) memutuskan untuk mengadakan wisata kuliner sejenak ke sebuah tempat makan yang kenikmatan makanannya sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Namun perlu dicurigai terdapat racun tikus dan kecoak didalamnya sebagai pelezat.

Kamipun makan dengan lahap sebgaimana ABG normal lainnya. Sampai akhirnya di ujung makanan penutup semuanya sudah tidak mampu menggerakan pantatnya lagi karena sudah kepenuhan. Dan tiba-tiba, salah seorang dari kami memecah kekenyangan yang sedang merasuk kedalam perut.

“Setan!!! Sapa nih yang kentut??!!” Uta berteriak bertanya dengan wajah innocentnya sambil menutup hidung dan menoleh kanan-kiri.

*yang lainnya tak bisa menjawab karena sudah pingsan dengan mulut berbusa*

————-

Akhirnya setelah diberikan pernafasan bantuan dengan O2 dan menyemprotkan parfum 2 botol, suasana kembali kondusif, hanya plus suara rintihan Uta, yang lubang duburnya baru saja disumbat menggunakan botol kecap plastik ukuran medium untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali.

(to be continued….)

*ditulis kira-kira setahun yang lalu…*


Dec 14 2008

Dia

Dia terduduk disana. Dipojok kelas itu. Sendiri.

“Hemmh…Samperin gak ya??” Pikir saya.

Entahlah, semenjak kejadian di taman kemarin saya merasa sangat tidak enak terhadapnya. Terlebih lagi karena saya sudah mencuri sebuah ciuman dari dirinya. hehe. Ciuman yang terlarang. Dan saya akui saya salah. Yaya, saya memang orang bodoh, egois, dan seenaknya sajah. Seharusnya saya tidak bertindak sejauh itu kan??

Huh,,terdapat sedikit rasa penyesalan di hati saya. Seandainya waktu bisa diulang, mungkin saya akan menciumnya lebih lama lagi..hehe..gak ding, saya seharusnya tidak melakukannya kan??Setidaknya saya minta ijin terlebih dahulu.

“Maaf, apa boleh bibirnya saya cium mbak??”

PLAAKKK!!

Bisa saya bayangkan tamparan itu sudah datang sebelum saya sempat menciumnya. hehe.

PLAAKKK!!!

“Aduhh!!” Sial, ada yang memukul kepala saya dari belakang.

“Hahaha..ketahuan kamu di. Ngeliatin Dia ya?? Dasar setan cilik!! Monyet disebelah saya ini mengganggu sajah.

Namanya Mia, salah seorang sahabat saya di kampus. Dan entah sejak kapan Mia sudah duduk disamping saya. Mia ini seperti jelangkung sajah, datang tak diundang, tapi pulangnya minta diantar. Haha..

“Ngeliatin sapa???” Tanya  saya pura-pura tidak tahu.

“Ahh..hayo ngaku!!Kalo gak aku bilangin ke orangnya ni..” Mia segera bangkit dan langsung membuka mulutnya lebar-lebar, pertanda bahwa dia akan berteriak bak loudspeaker soak yang baterenya sudah karatan.

Saya langsung membekap mulutnya, dan menyeretnya keluar dari ruang kuliah. Dengan kepala dibawah.

“Gila kamu!!”

“Hahaha..wo ow Adhi ketahuan, ngeliatin Dia…” Ahh, suaranya yang sok-sok meniru lagunya matta band sungguh membuat saya pengen terjun dari lantai 4 kampus ini.

“Iya..iya..Aku emang ngeliatin Dia, emang kenapa??Aneh ya??

“Gak sih harusnya, cuma kalo kamu ngeliatin Dia dengan iler netes-netes gitu, terus mata nanar kayak lum dikasik jatah setaun….”

“Gak segitunya kali!!!! Tapi, apa iya ya aku kayak gitu tadi???” Sial, saya tidak senafsu itu. Sungguh!!

“HAHAHAHA!!!” Ketawa lagi ni anak… Mia bener-bener seneng liat temen susah, susah liat temen seneng.

“Ahh..udah ah, aku mau balik ke kelas.” Saya malas kalo hanya mendengarkan cemoohan si Mia.

“Jangan mpe buka celana ngeliatinnya ya dhi!!!” Mia berteriak begitu kerasnya.

Damn.

————-

Dia tiba-tiba sudah duduk disebelah tempat duduk saya.

Deg. “Mati aku”

Sial, apa lagi sekarang?? Apa belum cukup dia nampar saya kemarin?? Kayaknya sih gitu. Karena tatapan matanya seperti penjagal ayam di pasar dengan pisau dapur di tangan kanan dan ayam di tangan kiri. Seakan mau bilang “Mati Lo dhi!!!” BRAKKK!!!(bunyi pisau dapur memotong leher ayam)

Glekk..

Saya hanya bisa menelan ludah dan berdiri kaku. Ingin rasanya saya balik ke Mia dan memintanya mengambilkan tas dan buku saya yang masih berserakan di atas meja. Tapi.. Ohh.. Bisa diinjak-injak kejantanan saya oleh nya kalo Mia tahu saya takut dengan si Dia. Tidak. Itu tidak boleh terjadi.

Akhirnya dengan membulatkan tekad berani mati, saya memutuskan untuk duduk di bangku saya, di sebelah Dia.

Jarak 20 langkah… Glek..

Jarak 15 langkah… keringat dingin mengucur deras…

jarak 10 langkah… Kaki saya mulai bergetar… Seluruh badan bergetar…

Jarak 5 langkah… Wajah memutih dan kepala saya pusing.

Jarak 2 langkah… Gdubbraakk..

“Aduh!!!!” Sial..Monyet!!!Saya lupa kalo ada kayu pembatas ruang kelas A dan B yang melintang di jalan. Jadilah saya tersungkur menanggung malu dihadapan teman-teman saya.

“Ya ampun dhi..Kamu gak apa-apa kan?? Makanya hati-hati dunk kalo jalan…” Suara ini..

Deg.

Si Dia sudah berjongkok di depan saya dan segera membantu saya berdiri. Ya ampun, Apa kata dunia???

“Aoow…” Saya meringis kesakitan sambil mengurut lutut saya yang tampaknya sedikit lecet dan membiru.

“Kamu gak apa-apa kan?? Sini aku bantu kamu duduk di kursi mu..”

“Eh iya, thx.” Sumpah, demi pahlawan bertopeng pembasmi keadilan, saya tidak menyangka akan perlakuannya kepada saya. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Apa dia tidak marah??Apa dia tidak dendam?? Ato jangan-jangan dia Ketagihan saya cium???Hihihi.. Untuk kali ini saya tidak ingin membuktikannya. Bisa-bisa saya di lempar dari lantai empat. hehe.

“Apanya yang sakit?”Dia bertanya, dan sangat terlihat khawatir.

“Emm, gak papa kok. Cuma sedikit nyeri ajah. Masih sakitan juga tamparan kamu kemarin.” Saya mencoba untuk langsung melakukan penetrasi ke inti masalahnya. (Aihh, kayak maen bola aja)

“Oww..” Dia menarik badannya dan bersandar di sandaran kursi dan memalingkan wajahnya dari saya.

Saya?? Kembali pura-pura sibuk mengurut-urut lutut saya yang terasa sakit, sambil sesekali mencuri pandang ke wajahnya.

Sial, saya tidak tahu bagaimana harusnya memulai pembicaraan setelah apa yang saya katakan tadi. Dia hanya diam seribu bahasa. Belum lagi perasaan tidak enak saya semakin parah ketika teringat teman saya yang notabenenya “Gebetannya” Dia. Kalo dia lapor, bisa habis saya di keroyok anak-anak satu fakultas tempat teman saya itu kuliah.

“Sakitnya masih terasa??” Si dia tiba-tiba mengakhiri keheningan yang tercipta diantara kami.

“Eh, umm, gak sih.. Udah aku kompres pake air es semalem.” Saya sedikit berbohong. Ya hitung-hitung biar dikasihaninlah. n ujung-ujungnya di maafin.

“Sorry ya… Kemarin aku keterlaluan.” Saya mengatakannya dengan kepala tertunduk. Sungguh, saya tidak berani untuk menatap matanya.

“Ehmm, gak kok!!! Harusnya aku yang minta maaf udah nampar kamu keras gitu”

WHAAATTT!!!!??? Apa saya bilang!! Ni cewek pasti ketagihan saya cium. Hahaha. Cium lagi ahh.. hehe. Gak dung, becanda.

“Eh??Kenapa kamu minta maaf??Kamu pantes lagi nampar aku, karena aku udah seenaknya ma kamu” Akhirnya saya berani memandang matanya lagi. And u know what? Matanya adalah mata terindah yang pernah saya lihat. Ehem.

“Maka dari itu, harusnya aku tu kemarin mukul kamu aja mpe pingsan. Biar kamu tahu rasa!!!Enak aja udah nyium aku, eh cuma aku tampar aja. Harus dapet lebih tuh!!!” Entah darimana datengnya, di tangannya udah ada stick baseball.

Buseet dah… “Mak.. Jangan tangisi kepergian ku ya…”

————-

“AMPUNNN, DIA!!!!!”

Namanya Nadia. Gadis tercantik yang dulu sekali pernah hadir dalam relung hati saya, yang baru kemarin sore menampar saya karna saya cium tanpa sengaja.

hehe.


Dec 7 2008

Dibawah tirai hujan

Sore ini kami berdua duduk di bangku di pinggir lapangan kota yang biasanya digunakan oleh masyarakat  di kota kami untuk berolahraga. Ya, berdua. Sesuatu yang akhir-akhir ini tidak bisa habis saiah pikir. Entah kenapa, dia menjadi sering sekali untuk mengajak saiah pergi ke tempat-tempat yang tidak pernah saiah duga. Seperti saat tadi, Entah setan apa yang telah membisiki telinganya, ketika dia tiba-tiba menelpon saiah.

“Halo, dhi! Temenin aku jogging dunk..ya..mau ya..????”pintanya manja.

“eh,,emm,,kapan??”

“Taon depan!! Ya sekarang lah!! Kamu pasti mau dunk!!hehe..ntar ya, jam 4.”

TUtt..tut..tut..

Yah begitulah, tanpa kuasa menolak bahkan diberikan pilihan untuk menjawab, saiah sudah duduk disampingnya saat ini, setelah kelelahan sehabis lari mengelilingi lapangan kota.

“Hauss nih, beliin minum dunk dhie..” Kemanjaannya ituh masih jelas terlihat di wajahnya yang kelelahan. Padahal sudah memasuki kepala dua tahun ini.

“huuhh,,wanita ini”pikir saiah. Saiah pun tak kuasa menolak.

Akhirnya setelah kami berdua meneguk sebotol aqua dingin yang segar, sedikit demi sedikit tenaga kami mulai pulih. Kami pun bercanda, banyak tertawa sambil sedikit membuat lelucon dari orang-orang unik yang lewat di depan kami saat itu.

Sungguh tak terbayangkan apa yang sedang saiah lakukan ini. Pergi berdua dengan dia yang dahulu selalu menolak ajakan saiah untuk sekedar pergi menemani saiah. Dia yang sudah saiah kenal sedari dulu, sifat baik buruknya, kemanjaannya, Bahkan jerawat di wajahnya pun pernah saiah hitung, saking dekatnya kami. Tapi tak sekalipun Dia mengiyakan saiah ketika saiah ajak untuk sekedar pergi ke kantin kampus yang hanya berjarak beberapa meter.

Dia yang dahulu sering saiah goda dan selalu saiah usili, dan dia yang terkadang suka bergelayut mesra di tangan saiah, bahkan suka meminjam bahu saiah untuk tertidur, tapi tak sekalipun dia pernah cerita kepada saiah kalo ternyata dia sedang menyukai seorang pria yang juga teman saiah itu.

Bukan!!Bukan dalam maksud saiah juga menyukai si dia. Bukan sama sekali. Karena dalam hati ini saiah hanya menganggapnya teman. Tidak lebih. titik.

Dan begitu juga dia, dahulu hanya menganggap saiah teman. Sekarang?? Tetap teman saiah kira. Karena saiah tahu dia sedang menyukai teman saiah (entah sekarang masih atau tidak saiah tidak tahu). Dan semenjak ituh saiah mulai menghindarinya.

Bukan!! bukan karena saiah cemburu atau marah!!Bukan sama sekali, tapi karena saiah tidak ingin mengganggu hubungan mereka. Saiah tidak ingin di cap pemakan gebetannya teman, terlebih lagi karena rasa ituuh sudah saiah timbun jauh hari lalu, ketika saiah bertemu dengan cinta pertama saiah yang sudah berlalu.

Bahkan sampai sekarang pun saiah masih suka menghindarinya. Karena saiah tidak ingin membuat sakit teman saiah itu yang menyukai si dia.

“Ehh,,anjing itu lucu banget ya!!” Seketika dia membuyarkan lamunan saiah.

“Ehh, mana?? ohh.. Iya, lucu” Mengenang masa lalu membuat saiah menyesali kenapa menerima ajakannya tadi, dan tiba-tiba..

Dia menyandarkan kepalanya di bahu saiah perlahan, sambil tanganya memeluk tangan saiah.

DEG. anak ini…

Hati saiah terlonjak, dan tubuh  saiah reflek menghindar dan melepaskan pelukan tangannya. Dahulu, ini merupakan hal biasa bagi saiah, namun sekarang…(saiah hanya tidak ingin menyakiti hati teman saiah, hehe)

Dia memandang saiah takjub. Kaget tepatnya. Terpana dengan sedikit mulut menganga.

"Kamu tuh kok gitu sih sekarang?? kenapa ngindarin aku terus…" Nada suaranya naik satu oktaf.

"Haduh,,kamu ni,,ntar si itu marah lo..Bisa di bunuh aku kalo di tauin lagi deket-deketan ama kamu. hehe"

"Heh..kan udah aku bilang ma kamu, aku tu gak ada apa-apa sama si itu. Berapa kali harus aku bilang???" naik dua oktaf.

"Alah, ni anak suka bercanda aja. haha" pikir saiah. Padahal baru beberapa minggu yang lalu dia tersipu malu ketika saiah goda dia yang lagi pdkt ama si itu.

Dia memalingkan mukanya dan menyandarkan dirinya ke bangku taman. Napasnya naik turun tidak keruan. Dan saiah hanya duduk disampingnya sambil tersenyum-senyum simpul melihat tingkahnya yang saiah pikir sedang bercanda.

"Ehh, marah beneran ya mbak?? hehe..tak beliin balon deh.." Saiah pun menanggapinya dengan bercanda.

"Makan tu balon!!!!" naik 3 oktaf.

Lo..lo..Dia marah beneran kayaknya. Dia bangkit dan ingin segera beranjak menjauhi saiah. Tangan saiah pun reflek mencegah dia pergi.

"Iiihh lepasin…" naik 4 oktaf.

"Lo, kamu tu kenapa sih?? kenapa sekarang jadi marah gini?? rasanya dulu-dulu biasa aja deh.." Saiah mulai merasa heran dan ikut beranjak dari bangku taman.

Sambil menepis tangan saiah dia pun berbalik menghadapi saiah, "Kamu tuh yang kenapa!!!Udah dibilangin juga aku sama dia tu gak ada apa-apa!!!masih juga di ungkit-ungkit terus!!!Ngindarin aku terus lagi!!!! KAMU TU NYEBELIN TAU GAK!!!!!" 5 0ktaf.

Kini giliran saiah yang takjub. Kaget tepatnya. Terpana hanya sajah dengan mulut ternganga lebar. Untung gak ada lalat masuk ataupun naga keluar.

Sungguh tak pernah saiah kira, dia yang dahulu selalu tampak seperti kekanak-kanakan, kemanjaan, sekarang berbicara kepada saiah, marah tepatnya, seperti gadis yang sudah benar-benar dewasa.

Dan dia pun berbalik pergi meninggalkan saiah yang sedang bingung. Bingung bingung dan bingung. Bingung dengan kata-katanya. Bingung dengan kemarahannya.

Saiah hanya bisa berpikir, "KEjar gak ya???kejar??gak??kejar??gak??kejar??gak??"

Tiba-tiba saja hujan rintik-rintik mulai jatuh ke pangkuan ibu pertiwi. Entah ini rencana tuhan sebagai pengiring dari kejadian di kala sore itu atau hanya kebetulan sajah. Entahlah. Dan semakin lama saiah merasa hujan ini kok makin deras yah???

Saiah pun menatap si dia. Dia yang kini sudah berada jauh beberapa langkah di depan saiah. Saiah memutuskan untuk mengejarnya.

Bukan!!Bukan untuk mencegahnya pergi, atau juga meminta kejelasan dari dia, atau juga meminta maaf. Tapi…

"Hooee!!!Tunggu!! Aku kan nebeng di mobil mu!!!!"

——-

Hujan turun begitu derasnya. Dan alhasil saiah berhasil mencapai tempatnya. Berhasil mengejarnya dan menggenggam tanganya. Dia menepisnya.

"Oke-oke!! Aku minta maaf!! Iya aku salah!!!Aku gak akan ngungkap-ngungkap hal-hal itu lagi deh, kalo itu buat kamu marah!!" Kata saiah sedikit berteriak untuk mengalahkan bunyi butiran air hujan yang saat itu jatuh disekitar kami.

Dia menghentikan langkahnya. Terdiam.

Saiah sedikit terpana ketika memandang wajahnya. Air matakah yang turun dari wajahnya?? Sial, hujan ini membuat saiah buta dalam membedakan air mata dan air hujan yang menghiasi wajah cantiknya. (Saiah belum bilang kan kalo dia itu cantik sekali)

"Kamu bener-bener tega, dhi!!”katanya perlahan.

“Kamu jahat banget ama aku!! JAHAT!!!JAHAT!!!JAHAT!!!"

Dia berteriak sembari memukul-mukulkan tangannya ke badan saiah. Saiah hanya membiarkannya sajah. Dan sambil tetap tidak mengerti kenapa saiah dia bilang jahat.

"Iya..iya aku jahat…aku emang jahat, tapi kasik aku alesannya donk!! Kenapa buat kamu aku jahat??” Saiah berkata sambil menangkap kedua tangannya untuk menghentikan pukulannya ke tubuh saiah. Sakit juga ternyata.

Dan dalam derasnya air hujan itu dia menangis. Ya, menangis. Kali ini saiah yakin seyakinnya kalo dia menangis. Tidak perlu air mata lagi untuk mengetahui kalo wanita cantik di depan saiah ini menangis. Karena bahasa tubuhnya yang bergetar serta hidungnya yang memerahlah yang memberi tahu saiah. (eh, apa dia kedinginan trus flu ya??)

Dia melepas pegangan tangan saiah. “Tanya aja ama rumput yang bergoyang!!!”

Sungguh. Jika saja suasanannya tidak sedang hujan dan dia tidak sedang menangis, karena saiah. Saiah pasti sudah tertawa tergelak-gelak saat itu. hihihi.

“Bahkan disaat seperti ini pun kamu masih sempet ngelawak” Dalam pikiran saiah saja tentunya.

Eh, dia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan saiah lagi, dan kini sedikit berlari.

Saiah termenung. Seketika saiah tersadar. Dan bagaikan tertimpa batu ribuan ton atau lebih tepatnya petir di saat hujan, Hati saiah bergejolak. “Tidak mungkin….Apa dia??”

Hanya ada satu cara untuk membuktikannya…

Saiah pun tanpa pikir panjang lagi langsung mengejarnya, menangkap tanganya, membalikkan badannya, dan…

Ahh.. Entah setan darimana lagi yang tiba-tiba merasuki saiah pada saat itu. Saiah hanya melakukannya tanpa memikirkan apa-apa lagi. Entah ada beberapa pasang mata yang sedang menonton kami saat itu, entah seberapa basah baju kami saat itu, entah dimana kami berada saat itu, dan yang paling penting adalah, entah bagaimana perasaan dia terhadap saiah saat itu, dan juga entah apa yang saiah sadari salah atau benar, saiah seakan lupa. Saiah hanya terbawa suasana, (mungkin karena terlalu banyak menonton film-film drama romantis kali ya)

Dan dia, hanya tergetar, entah karena kedinginan atau karena menangis, atau juga karena marah, ketika saiah memeluk tubuhnya dan bibir saiah terpleset mencium bibir merahnya.

——–

PLAAAAKKKK!!!!(tanganya terpleset nempel di pipi saiah)

“Pulang sendiri!” ….. “Jalan kaki!”

 

 

Nampaknya saiah salah…..sangka???


Sep 25 2008

Enaknya isi closet kita

Hayoo..sapa dari sodarah yang suka gak nyiram closet sehabis melangsungkan nafsu bejatnya??? Eiitss, hati-hati!!Bisa-bisa isi closet sodarah berpindah ke mulut lo. hehe.

kok bisa dhi???

Continue reading


Aug 28 2008

Made in INdonesia ituh

Inih ada berita dari negeri seberang, tepatnya dari negeri tempat lahirnya penyihir kondang harry potter, di london situtuh(eh bener gak sih?? london ibukotanya inggris kan ya??hihih).

Ada apa sih??

Continue reading