Sore ini kami berdua duduk di bangku di pinggir lapangan kota yang biasanya digunakan oleh masyarakat di kota kami untuk berolahraga. Ya, berdua. Sesuatu yang akhir-akhir ini tidak bisa habis saiah pikir. Entah kenapa, dia menjadi sering sekali untuk mengajak saiah pergi ke tempat-tempat yang tidak pernah saiah duga. Seperti saat tadi, Entah setan apa yang telah membisiki telinganya, ketika dia tiba-tiba menelpon saiah.
“Halo, dhi! Temenin aku jogging dunk..ya..mau ya..????”pintanya manja.
“eh,,emm,,kapan??”
“Taon depan!! Ya sekarang lah!! Kamu pasti mau dunk!!hehe..ntar ya, jam 4.”
TUtt..tut..tut..
Yah begitulah, tanpa kuasa menolak bahkan diberikan pilihan untuk menjawab, saiah sudah duduk disampingnya saat ini, setelah kelelahan sehabis lari mengelilingi lapangan kota.
“Hauss nih, beliin minum dunk dhie..” Kemanjaannya ituh masih jelas terlihat di wajahnya yang kelelahan. Padahal sudah memasuki kepala dua tahun ini.
“huuhh,,wanita ini”pikir saiah. Saiah pun tak kuasa menolak.
Akhirnya setelah kami berdua meneguk sebotol aqua dingin yang segar, sedikit demi sedikit tenaga kami mulai pulih. Kami pun bercanda, banyak tertawa sambil sedikit membuat lelucon dari orang-orang unik yang lewat di depan kami saat itu.
Sungguh tak terbayangkan apa yang sedang saiah lakukan ini. Pergi berdua dengan dia yang dahulu selalu menolak ajakan saiah untuk sekedar pergi menemani saiah. Dia yang sudah saiah kenal sedari dulu, sifat baik buruknya, kemanjaannya, Bahkan jerawat di wajahnya pun pernah saiah hitung, saking dekatnya kami. Tapi tak sekalipun Dia mengiyakan saiah ketika saiah ajak untuk sekedar pergi ke kantin kampus yang hanya berjarak beberapa meter.
Dia yang dahulu sering saiah goda dan selalu saiah usili, dan dia yang terkadang suka bergelayut mesra di tangan saiah, bahkan suka meminjam bahu saiah untuk tertidur, tapi tak sekalipun dia pernah cerita kepada saiah kalo ternyata dia sedang menyukai seorang pria yang juga teman saiah itu.
Bukan!!Bukan dalam maksud saiah juga menyukai si dia. Bukan sama sekali. Karena dalam hati ini saiah hanya menganggapnya teman. Tidak lebih. titik.
Dan begitu juga dia, dahulu hanya menganggap saiah teman. Sekarang?? Tetap teman saiah kira. Karena saiah tahu dia sedang menyukai teman saiah (entah sekarang masih atau tidak saiah tidak tahu). Dan semenjak ituh saiah mulai menghindarinya.
Bukan!! bukan karena saiah cemburu atau marah!!Bukan sama sekali, tapi karena saiah tidak ingin mengganggu hubungan mereka. Saiah tidak ingin di cap pemakan gebetannya teman, terlebih lagi karena rasa ituuh sudah saiah timbun jauh hari lalu, ketika saiah bertemu dengan cinta pertama saiah yang sudah berlalu.
Bahkan sampai sekarang pun saiah masih suka menghindarinya. Karena saiah tidak ingin membuat sakit teman saiah itu yang menyukai si dia.
“Ehh,,anjing itu lucu banget ya!!” Seketika dia membuyarkan lamunan saiah.
“Ehh, mana?? ohh.. Iya, lucu” Mengenang masa lalu membuat saiah menyesali kenapa menerima ajakannya tadi, dan tiba-tiba..
Dia menyandarkan kepalanya di bahu saiah perlahan, sambil tanganya memeluk tangan saiah.
DEG. anak ini…
Hati saiah terlonjak, dan tubuh saiah reflek menghindar dan melepaskan pelukan tangannya. Dahulu, ini merupakan hal biasa bagi saiah, namun sekarang…(saiah hanya tidak ingin menyakiti hati teman saiah, hehe)
Dia memandang saiah takjub. Kaget tepatnya. Terpana dengan sedikit mulut menganga.
"Kamu tuh kok gitu sih sekarang?? kenapa ngindarin aku terus…" Nada suaranya naik satu oktaf.
"Haduh,,kamu ni,,ntar si itu marah lo..Bisa di bunuh aku kalo di tauin lagi deket-deketan ama kamu. hehe"
"Heh..kan udah aku bilang ma kamu, aku tu gak ada apa-apa sama si itu. Berapa kali harus aku bilang???" naik dua oktaf.
"Alah, ni anak suka bercanda aja. haha" pikir saiah. Padahal baru beberapa minggu yang lalu dia tersipu malu ketika saiah goda dia yang lagi pdkt ama si itu.
Dia memalingkan mukanya dan menyandarkan dirinya ke bangku taman. Napasnya naik turun tidak keruan. Dan saiah hanya duduk disampingnya sambil tersenyum-senyum simpul melihat tingkahnya yang saiah pikir sedang bercanda.
"Ehh, marah beneran ya mbak?? hehe..tak beliin balon deh.." Saiah pun menanggapinya dengan bercanda.
"Makan tu balon!!!!" naik 3 oktaf.
Lo..lo..Dia marah beneran kayaknya. Dia bangkit dan ingin segera beranjak menjauhi saiah. Tangan saiah pun reflek mencegah dia pergi.
"Iiihh lepasin…" naik 4 oktaf.
"Lo, kamu tu kenapa sih?? kenapa sekarang jadi marah gini?? rasanya dulu-dulu biasa aja deh.." Saiah mulai merasa heran dan ikut beranjak dari bangku taman.
Sambil menepis tangan saiah dia pun berbalik menghadapi saiah, "Kamu tuh yang kenapa!!!Udah dibilangin juga aku sama dia tu gak ada apa-apa!!!masih juga di ungkit-ungkit terus!!!Ngindarin aku terus lagi!!!! KAMU TU NYEBELIN TAU GAK!!!!!" 5 0ktaf.
Kini giliran saiah yang takjub. Kaget tepatnya. Terpana hanya sajah dengan mulut ternganga lebar. Untung gak ada lalat masuk ataupun naga keluar.
Sungguh tak pernah saiah kira, dia yang dahulu selalu tampak seperti kekanak-kanakan, kemanjaan, sekarang berbicara kepada saiah, marah tepatnya, seperti gadis yang sudah benar-benar dewasa.
Dan dia pun berbalik pergi meninggalkan saiah yang sedang bingung. Bingung bingung dan bingung. Bingung dengan kata-katanya. Bingung dengan kemarahannya.
Saiah hanya bisa berpikir, "KEjar gak ya???kejar??gak??kejar??gak??kejar??gak??"
Tiba-tiba saja hujan rintik-rintik mulai jatuh ke pangkuan ibu pertiwi. Entah ini rencana tuhan sebagai pengiring dari kejadian di kala sore itu atau hanya kebetulan sajah. Entahlah. Dan semakin lama saiah merasa hujan ini kok makin deras yah???
Saiah pun menatap si dia. Dia yang kini sudah berada jauh beberapa langkah di depan saiah. Saiah memutuskan untuk mengejarnya.
Bukan!!Bukan untuk mencegahnya pergi, atau juga meminta kejelasan dari dia, atau juga meminta maaf. Tapi…
"Hooee!!!Tunggu!! Aku kan nebeng di mobil mu!!!!"
——-
Hujan turun begitu derasnya. Dan alhasil saiah berhasil mencapai tempatnya. Berhasil mengejarnya dan menggenggam tanganya. Dia menepisnya.
"Oke-oke!! Aku minta maaf!! Iya aku salah!!!Aku gak akan ngungkap-ngungkap hal-hal itu lagi deh, kalo itu buat kamu marah!!" Kata saiah sedikit berteriak untuk mengalahkan bunyi butiran air hujan yang saat itu jatuh disekitar kami.
Dia menghentikan langkahnya. Terdiam.
Saiah sedikit terpana ketika memandang wajahnya. Air matakah yang turun dari wajahnya?? Sial, hujan ini membuat saiah buta dalam membedakan air mata dan air hujan yang menghiasi wajah cantiknya. (Saiah belum bilang kan kalo dia itu cantik sekali)
"Kamu bener-bener tega, dhi!!”katanya perlahan.
“Kamu jahat banget ama aku!! JAHAT!!!JAHAT!!!JAHAT!!!"
Dia berteriak sembari memukul-mukulkan tangannya ke badan saiah. Saiah hanya membiarkannya sajah. Dan sambil tetap tidak mengerti kenapa saiah dia bilang jahat.
"Iya..iya aku jahat…aku emang jahat, tapi kasik aku alesannya donk!! Kenapa buat kamu aku jahat??” Saiah berkata sambil menangkap kedua tangannya untuk menghentikan pukulannya ke tubuh saiah. Sakit juga ternyata.
Dan dalam derasnya air hujan itu dia menangis. Ya, menangis. Kali ini saiah yakin seyakinnya kalo dia menangis. Tidak perlu air mata lagi untuk mengetahui kalo wanita cantik di depan saiah ini menangis. Karena bahasa tubuhnya yang bergetar serta hidungnya yang memerahlah yang memberi tahu saiah. (eh, apa dia kedinginan trus flu ya??)
Dia melepas pegangan tangan saiah. “Tanya aja ama rumput yang bergoyang!!!”
Sungguh. Jika saja suasanannya tidak sedang hujan dan dia tidak sedang menangis, karena saiah. Saiah pasti sudah tertawa tergelak-gelak saat itu. hihihi.
“Bahkan disaat seperti ini pun kamu masih sempet ngelawak” Dalam pikiran saiah saja tentunya.
Eh, dia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan saiah lagi, dan kini sedikit berlari.
Saiah termenung. Seketika saiah tersadar. Dan bagaikan tertimpa batu ribuan ton atau lebih tepatnya petir di saat hujan, Hati saiah bergejolak. “Tidak mungkin….Apa dia??”
Hanya ada satu cara untuk membuktikannya…
Saiah pun tanpa pikir panjang lagi langsung mengejarnya, menangkap tanganya, membalikkan badannya, dan…
Ahh.. Entah setan darimana lagi yang tiba-tiba merasuki saiah pada saat itu. Saiah hanya melakukannya tanpa memikirkan apa-apa lagi. Entah ada beberapa pasang mata yang sedang menonton kami saat itu, entah seberapa basah baju kami saat itu, entah dimana kami berada saat itu, dan yang paling penting adalah, entah bagaimana perasaan dia terhadap saiah saat itu, dan juga entah apa yang saiah sadari salah atau benar, saiah seakan lupa. Saiah hanya terbawa suasana, (mungkin karena terlalu banyak menonton film-film drama romantis kali ya)
Dan dia, hanya tergetar, entah karena kedinginan atau karena menangis, atau juga karena marah, ketika saiah memeluk tubuhnya dan bibir saiah terpleset mencium bibir merahnya.
——–
PLAAAAKKKK!!!!(tanganya terpleset nempel di pipi saiah)
“Pulang sendiri!” ….. “Jalan kaki!”
Nampaknya saiah salah…..sangka???