Oct 29 2009

friendship

yeahh 

Friendship isn’t how you forget, but how you forgive

not how you listen, but how you understand

not how you see, but how you feel

not how you let go, but how you hold on

————————————————————

Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi. Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih. Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu. karena kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mu mencari kedamaian.

Bila dia berbicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”. Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam  persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dibagi, dengan kegembiraan tiada terkirakan. Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kan nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan. Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan : hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu. Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu. Gerangan apa sahabat itu jika  kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu! Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu. Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berbagi kegembiraan.. Karena dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.

 

oleh khalil gibran


Oct 28 2009

Ketika melihat jauh kedepan ituu…

haha (2)

———————————————————

Ketika muda, kita bahagia.

Kau dengan kecantikan mu, kelembutanmu, kepintaranmu.

Aku dengan ketampananku, kebaikanku, serta kedewasaanku.

Kita pasangan yang berbahagia. Menemukan cinta ditengah galaunya hati masa muda.

Berjanji sehidup semati, dalam suka dan duka.

———

Lalu datang lah saat dimana kita mengikat janji abadi.

Dibawah sinar rembulan yang membisu, disaksikan oleh puluhan tatap mata.

Merajut sebuah harapan, akan hari esok yang lebih cerah.

Karena kita tahu akan kita lalui bersama.

Dan seiring berjalan nya waktu, tanpa kita sadari, hidup kita telah berubah.

———-

Jerit suara tangis bayi yang membangunkan kita di tengah malam.

Jerit suara tangis bayi yang meminta makan dan meminta susu.

Aku yang terlalu lelah datang dari bekerja.

Dan kau yang terlalu lelah menjaga mereka seharian.

Apakah kita masih akan saling pengertian?

———

Beribu macam godaan. Beratus-ratus tantangan.

Aku tidak lagi aku yang dulu,

tidak setampan dahulu, tidak sebaik dahulu, dan hidup jauh lebih keras.

Dan kau juga tidak semenarik dahulu,

tidak secantik dahulu, tidak sepintar dahulu, ataupun selembut dulu.

Hidup telah merubah kita,

Akankah kita masih akan saling menjaga?

———-

Dan jika ternyata hidup tidak berjalan sesuai yang kita inginkan.

Ketika Banyak keinginan kita yang tidak terpenuhi.

Ketika kesusahan dan kemelaratan datang menerpa.

Ketika salah satu dari kita terhanyut oleh godaan.

Apakah kita masih akan saling mencintai?

Apakah kita masih akan mengingat pernah mengucap janji setia,

sehidup semati dibawah sinaran rembulan malam itu?

Ato sekedar mengingat kebahagiaan masa muda kita?

Ketika aku selalu mengucapkan “aku cinta padamu” 3 kali sehari.

dan kau mengecup keningku dikala sedihku.

Ingatkah kita?

——–

 

*foto diatas hanya ilustrasi, bukan bagian dari cerita*


Oct 12 2009

rindu

Saya sedang merindu. Ya, merindu seorang gadis yang kini sedang jauh dari sisi saya. Oh, bukan, gadis itu bukan pacar saya dan saya pun tidak berharap dia menjadi pacar saya kelak. Saya hanya merindukannya.

Senyumnya, tawanya, hatinya, semuanya. Ada banyak hal dari dirinya yang membuat saya tertarik. Ada banyak kenangan bersamanya yang tidak mudah untuk dilupakan. Dan saya bahagia walaupun hanya bisa mengenalnya dan menjadi sahabatnya.

Hey, cinta tak harus memiliki kan?

Terkadang mencintai seseorang lebih indah ketika cinta itu tak menjadi milik kita. Bayangkan setiap hal dari dirinya yang bisa membuat kita bahagia, bahkan sepenggal fragmen kecil bersama dirinya akan membuat hari kita jauh lebih berwarna.

Setidaknya, tak ada kata “putus” dalam cinta yang tak memiliki kan?

Sepenggal puisi yang saya baca dari salah seorang teman di blogsphere ini mungkin bisa menggambarkan perasaan saya saat ini. Puisi ini ditulis oleh Melissa blake, salah seorang blogger luar yang blognya dipenuhi oleh hal-hal yang luar biasa. (coba saja kunjungi blognya kalo gak percaya!)

Dan puisi ini saya berikan untuk seorang gadis tercantik yang ada nun jauh disana, yang selalu mengiringi hari-hari saya dengan tawanya dan senyumnya. Serta mengisi hati saya dengan cinta yang sesungguhnya.

“Semoga kamu baik-baik saja disana, tidurlah yang nyenyak untuk malam ini”.

—————-

You’ve got a way about you
From the moment you walk into the room
Every time, I have to watch myself so you won’t see
That looking at you smiling at me makes it hard to breathe

I’ve never been so open, but sitting here with you
It’s just so easy
Listening to your laugh, it’s so breezy
I want to make these moments last forever…

Because with you, I don’t have to try
With you, I know the reason why
I can be whoever I want to be
It’s a beautiful feeling, to finally start believing
That I can be me, that you can see me
When I’m with you

You never know when love comes along
But listen, don’t you hear it playing our song?
What would you do if I asked you to dance?
What’s so bad about just letting things happen?

I’ve never been so open, but sitting here with you
It’s just so easy
Listening to your laugh, it’s so breezy
I want to make these moments last forever…

Because with you, I don’t have to try
With you, I know the reason why
I can be whoever I want to be
It’s a beautiful feeling, to finally start believing
That I can be me, that you can see me
When I’m with you

If I told you how I felt, would that change a thing?
Because the more of you I know, the more I want to tell you everything

I’ve never been so open, but sitting here with you
It’s just so easy
Listening to your laugh, it’s so breezy
I want to make these moments last forever…

Because with you, I don’t have to try
With you, I know the reason why
I can be whoever I want to be
It’s a beautiful feeling, to finally start believing
That I can be me, that you can see me
When I’m with you

Because with you, I don’t have to try
With you, I know the reason why
I can be whoever I want to be
It’s a beautiful feeling, to finally start believing
That I can be me, that you can see me
When I’m with you


Oct 11 2009

Dilema

Saya sedang gelisah.

Nenek bilang, kita harus berani untuk mencoba untuk mendapatkan sebuah pengalaman. Tapi tetap saja saya gelisah. Sebentar lagi saya akan dihadapkan pada dunia yang baru. Dunia yang saya pikir baru akan saya temui nanti ketika saya tamat kuliah nanti. Tapi, hey, Tuhan memiliki rencana lain rupanya?

————

“Dhi, sini deh bentar, ada yg mau aku bilang” salah seorang teman menghampiri saya.

“Apa?”

“Ada tawaran dari si Anu, katanya tempat dia kerja sedang ngebutuhin asisten baru buat gantiin si Anu. Dia karang udah gak sempat lagi, bakal sibuk ngurus kuliahnya”

“Eh?”

“jadi gimana?”

“emm….”

“Ya, cuma mau nyampein itu aja sih…”

“oke..”

Dan tak lama setelah nya saya telah ngobrol panjang lebar dengan si Anu membahas masalah itu. Akhir pembicaraan, saya meminta waktu untuk berpikir.

————–

*Satu setengah tahun yang lalu…*

Di pinggir koperasi kampus kala itu, masih teringat jelas saya dan Anu membicarakan hal yang sama. Bedanya, Anu baru saja memulai asistensinya, dan saya sedang bernafsunya untuk mencari pekerjaan seorang asisten.

“Serius kamu kerja di tempat itu??wahh..mau!! Ikut…” kata saya.

“Hehe, sayang banget, Dhi. Bos nya cuma nyari satu asisten”

“Huhu, pasti asik banget thu. Aku pengen nyari pengalaman nih, eh digaji gak?”

“Yaiya dung. ya gak banyak-banyak amat sih, cukup buat ganti uang bensin aja”

Semakin kepengen…

————-

Dan sekarang, ketika kesempatan itu telah ada di depan mata, saya malah meragu untuk mengambilnya. Heran, kemana perginya nafsu besar untuk mencari pengalaman itu?

Sepertinya waktu telah mengubah semuanya, dan kuliah saya pun bisa dibilang sudah membutuhkan perhatian yang bener-bener ekstra. Jadi tak bisa begitu saja di sepelekan. Lama saya memikirkan hal ini, karena dilema perasaan antara menerima ajakan yang telah satu setengah tahun saya tunggu-tunggu dengan beban kuliah dan tugas-tugas beserta tetek bengek lainnya.

Apa yang harus saya lakukan?? Mana yang harus dipilih??

————-

Suatu malam, saya curhat dengan salah seorang teman saya mengenai masalah ini. Dia hanya tertawa.

“Kenapa kamu takut untuk mencoba sesuatu?” tanyanya setelah puas menertawakan saya.

“BUkannya takut, tapi lebih karena aku telah terbiasa dengan kehidupan selama satu setengah tahun setelahnya”.

“Jadi kamu takut meninggalkan pola hidup itu?”

“Kurang lebih”

“Tenang aja, Dhi. Kalo kamu pasti bisa”.

“Bisa apanya?”

“Bisa berubah. Ini kan kesempatan yang kamu tunggu sudah satu setengah tahun lamanya, mungkin memang sekarang lah saat yang tepat buat kamu untuk memulai asistensi itu”.

“Ya, tapi kan semuanya udah berbeda!! Lain dulu lain sekarang. Keadaannya udah berbeda”

“Tapi setidaknya kamu harus berani untuk mencoba kan? Daripada kamu nanti menyesalinya karena gak mengambil kesempatan ini? Ya, kalopun nantinya gak jadi, anggep aja memang belum waktunya. Tapi selama pintu kesempatan masih terbuka lebar, kenapa gak??

“………..”

“Gimana??”

“Entah, masih bingung”.

“Asistensi ini juga masih berhubungan erat dengan kuliah mu sekarang kan? Jadi gak ada salahnya untuk di coba lagi, Dhi. Jangan takut akan perubahan. Jangan takut kehilangan pola hidupmu yang sekarang, karena kita itu harus selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Itulah  hidup kan? Untuk mencari pengalaman baru?? Tanpa itu, kamu gak akan pernah maju”

“………..”

“Memang, terkadang untuk mendapatkan sesuatu, ada hal yang harus dikorbankan, Dhi”

“……”

hening

“Kenapa baru sekarang ya? setelah aku tidak terlalu mengharapkan hal itu lagi. Ketika aku tidak merasa perlu buat nyari pekerjaan itu lagi”

“Karena Dia selalu tahu apa yang terbaik untuk mu, Dhi. Dia tahu kapan saat yang tepat untuk memberikannya padamu, dan kamu tidak tahu itu kan? Kamu tidak pernah tahu, apakah hal yang kamu minta itu memang terbaik untuk dirimu”

“Eh?”

“Manusia boleh saja merencanakan apa yang terbaik untuk hidupnya, tapi tetap Dia yang menentukan segalanya. Segala yang terbaik untuk ciptaannya”

“Jadi aku harus gimana?”

“Semua pilihan ada ditanganmu, pikirkanlah dan pilihlah dengan bijak”

———–

*Seminggu berselang*

Saya mengirim sms kepada si Anu, isinya :

“Oke, aku terima tawaranmu”

Saya telah berpikir selama ini dan telah mengambil keputusan untuk menerima kesempatan ini. Entah nanti kedepannya akan bagaimana, serahkan semuanya padaNYA, karena seperti kata teman saya, DIA tahu apa yang terbaik untuk saya dan juga untuk kita semua, meskipun itu hal yang berat sekalipun.


Oct 9 2009

part of my day

“Hey, Dia!!!” Dia menoleh dan menunjukan senyum nya yang khas. Manis dan menggoda.

“Apa, Dhi?”

“Gak kenapa kok, hehe, cuma manggil aja” kata saya sambil berjalan beriringan dengan Dia menuju ke ruang kelas pagi ini.

——

Tanpa terasa hampir 1,5 tahun telah berlalu sejak awal saya menjejakan kaki di kampus ini. Ya, setidaknya sudah 1,5 tahun saya mengenal teman-teman seangkatan saya. Teman-teman yang semuanya setiap hari berkumpul dalam satu kelas, kecuali hari minggu dan hari libur. Melelahkan!!

Diantara mereka semua, Dia adalah salah satu orang yang selalu menarik perhatian saya. melepas kenyataan kalau dia sering menarik-narik saya untuk pergi nganterin dia sekedar ke kantin ato ke ruang dosen. Kalo ke toilet?? Wah, gak perlu ditarik deh!! hihi.

Selain Dia, ada Mia salah seorang sahabat saya, yang gokil, dengan kepintaran diatas rata-rata-tanah. Pernah sesekali dosen bertanya, “Kalian tahu kenapa gigi yang berlubang harus ditambal??” Mia dengan penuh percaya diri mengacungkan tangan “Karena kalo gak ditambal bisa nyebabin kecelakaan bu!?” Selanjutnya Mia sukses dibenamkan di bak mandi untuk membangunkannya dari kantuk.

Nah, yang satu ini temen saya yang paling heboh. Gea namanya. Merupakan pusat dari keramaian yang ada. Dimana ada Gea pasti disana ada kehebohan yang terjadi. Dan Gea selalu sukses membuat saya tertawa, meskipun saya terkadang gak tau apa yang ditertawakan.

Lalu ada Uta, pria berbadan subur yang sedang berusaha menguruskan badannya dengan melakukan diet ketat. Pake celana ketat, baju ketat, sepatu ketat, Semua hal yang berbau ketat pasti akan dilakukan olehnya. Orangnya lucu, dia selalu bisa membuat orang tertawa dengan menertawai orang lain. (Tanpa menyadari kalo orang lain terkadang menertawakan dirinya bukan leluconnya)

Selanjutnya ada Lis, berhubung badannya yang mungil dia sering salah diinterpretasikan antara anak kuliahan dengan anak TK. Seorang wanita yang baik dan pekerja keras, terutama dalam memaksakan kehendaknya kepada teman-temannya. Jangan tertipu oleh ukuran badannya, karena mungil-mungil begitu, Liz disegani sebagai pimpinan preman pasar.

Dan terakhir, sebut saja bunga *bukan nama sebenarnya* Lha??

Itulah beberapa teman yang selalu menyertai hari-hari saya dalam menempuh pendidikan di kampus ter***** ini. Tanpa mereka, hidup saya bagaikan makan piring tanpa nasi (Gimana caranya makan ya?)

————–

Saya dan Dia duduk di deretan kursi paling tengah saat itu. Gea, Uta dan lain-lain sudah lebih dahulu mengisi tempat-tempat disebelahnya.

“Wah, adhi hari ini datengnya barengan Dia lagi ya??” Gea memulai pembicaraan.

“Ahh, gak kok, tadi kita ketemu dijalan aja, ya kan Dia?”

“Eh, sapa ya??Rasanya tadi aku jalan ndiri deh” Dia menjawab dengan tampang sinisnya.

“Tegaa…”

—————-

Hari ini termasuk dalam satu dari sekian banyak hari dalam seminggu yang berjalan membosankan. Duduk di dalam ruang kuliah – menunggu dosen yang tak kunjung datang – ke kantin – duduk dalam ruang kuliah – nunggu dosen – ketiduran di meja – pulang dengan perut lapar minta diisi.

Berhubung hari ini pulang lebih awal karena dosen yang tak kunjung datang karena ada banyak halangan dan rintangan, jadi kami(saya, Lis, Uta, Gea, dan Mia) memutuskan untuk mengadakan wisata kuliner sejenak ke sebuah tempat makan yang kenikmatan makanannya sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Namun perlu dicurigai terdapat racun tikus dan kecoak didalamnya sebagai pelezat.

Kamipun makan dengan lahap sebgaimana ABG normal lainnya. Sampai akhirnya di ujung makanan penutup semuanya sudah tidak mampu menggerakan pantatnya lagi karena sudah kepenuhan. Dan tiba-tiba, salah seorang dari kami memecah kekenyangan yang sedang merasuk kedalam perut.

“Setan!!! Sapa nih yang kentut??!!” Uta berteriak bertanya dengan wajah innocentnya sambil menutup hidung dan menoleh kanan-kiri.

*yang lainnya tak bisa menjawab karena sudah pingsan dengan mulut berbusa*

————-

Akhirnya setelah diberikan pernafasan bantuan dengan O2 dan menyemprotkan parfum 2 botol, suasana kembali kondusif, hanya plus suara rintihan Uta, yang lubang duburnya baru saja disumbat menggunakan botol kecap plastik ukuran medium untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali.

(to be continued….)

*ditulis kira-kira setahun yang lalu…*